Rabu, 27 Januari 2016

Filosofi dasar kalkulus
            Ini adalah cerita ke empat dari wanita yang sama  bercerita  perihal lelaki yang belakangan ini mulai mengganggu tidurku dan sialnya ketika senja berkeinginan mampir aku dipaksa memikirkannya.
6 Bulan Silam
            Kupastikan semangat pejuang kini mempelopori jiwaku, dengan sangat hati-hati ku masukkan surat bertinta merah itu ke amplop putih. Kemudian sedikit mengintip dan mengingat kembali isi surat itu.
Dear Lelaki pengkhianat
Tahukah kamu?
Aku nyaris memasukkan pistol ke dalam suratku ini, dan menuliskan mantra yang bias membuat tanganmu bergerak sendiri lalu mengarahkan pistolnya tepat ke kepalamu.
Aku sampai tak habis pikir mengapa si perempuan manja itu begitu memujamu dengan seribu dewa dewi malam sampai menghafal setiap jejak kaki kuda merahmu itu melangkah.
Kau hampir merusak kehormatan dari kata-kata pamungkasku selama ini “Jarak tak akan mampu memisahkan cinta sejati Karena rindu bukanlah persoalan sudut yang saling bertolak belakang”.
Berhenti membodohi si manja, atau aku akan menemuimu langsung!
………….
            Entah langit mau merestui langkahku hari ini ,atau pagi bersedia lebih anggun duduk disinggasanya,  jelasnya aku sudah  terlalu jenuh mendengar tangisan si wanita manja ini. Yang sedari tadi menghujat Lelaki itu dengan bibir mungilnya tapi tatapannya masih dihujati rasa sayang. Ooh dunia seharusnya Para wanita lebih lihai melihat lelaki yang sejatinya ada lelaki, para Ibu  lebih telaten mendidik anak lelakinya dan stok laki-laki seperti satria lebih memenuhi bumi ini. Tapi itu mustahil dia lelakiku dan Jika diibiratkan “Kau satriaku Kau Fungsi Satu-Satu”. 
3 Bulan Silam
Kupastikan pulsa dinomor baru ini cukup untuk sekedar memaki Si lelaki Pengkhianat , Tidak boleh berlebih sebab kata si wanita manja ini ia punya power yang bisa mnembuat perempuan bisa betah mengobrol lama dengannya walaupun yang dibahas hanya persoalan kenaikan bahan sembako dipasar, Wacana!Demi menghargai arti kata “Sopan” aku memutuskan untuk mengirimi ia sebuah pesan singkat
“Luangkan waktu tak berhargamu 900 detik, angkat telpon dengan nomor baru setelah ini”
Pesan terkirim                         
Tiiit,,tiiit,,tiit…..
*Tersambung*
“Halo, Tak perlu membalas dengan sapaan yang sama kau cukup diam dan dengarkan aku, maaf sebelumnya tapi sepertinya aku memang pantas mengucapkan kalimat ini, Barangkali ini kedengaran seperti pelajaran yang membosankan tapi kau wajib mendengarkannya. Kau tahu senapan?Andaikan sebuah fungsi  adalah senapan. Mengambil posisi sebagai himpunan daerah asal yang menembak himpunan sasaran. Kau seorang lelaki, berhentilah menjadi Titik yang sama yang dapat membuat beberapa peluru  mendarat pada titikmu, biarkan sasarannya tunggal. Dititik yang memang pantas.
Sehingga tak perlu lagi ada peluru yang terbuang sia-sia.
Lalu…
Biarkan ia rengkuh kebahagian mutlak,  wanita ini menemukan lelakinya, bukan lelaki pengkhianat sepertimu.
Berhenti menyakitinya, atau aku akan benar-benar menemuimu!
Telpon ku tutup jauh sebelum lelaki itu menghela nafas, mungkin.
………..
            Dan akhirnya tiba hari ini, akan ku lunasi nasehat-nasehat kecilku untuk si wanita manja, kutemui lelaki pengkhianat diperempatan jalan sempit, dan jantungku mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Perasaan aneh, sebab reaksi seperti ini hanya biasa ku rasakan satu jam sebelum aku dan lelakiku satria membuat janji untuk saling bertemu. Aku kembali mengingat kapan perasaan deg degan ini terakhir mampir, ooh iya setahun yang lalu tepat setelah Aku dan lelakiku memutuskan untuk menjalani hubungan jarak jauh. Dan selama itu kami tak pernah lagi bertemu, begitu rindu kah aku dengan lelakiku itu? sampai lupa mengabsen ke dia apa yang akan kulakukan hari ini.
“Sat, hari ini aku ada misi penting! Doain yah”
 5 menit sebelum waktu yang dijanjikan, debaran jantungku semakin tak karuan, oke ini wajar, aku hanya terlalu terbawa emosi. Dan waktunya tiba 12:00 seorang lelaki mendekatiku, dengan tatapan yang tak kalah heran. Aku mengenalinya Dia lelakiku, dia satria lelaki yang setahun silam menggengam tanganku erat. Berbicara tentang jarak yang tak akan pernah mengubah perasaan kita satu sama lain. Tentang doa-doa tulus yang diucapkan sepasang kekasih dipisahkan jarak, kemampuan Tuhan menjawabnya. Lalu? Hari ini tiba, kamu lelakiku dan kamu berhasil membohongiku. Aku diam mematung, ini sungguh seperti  teorema dasar kalkulus tak perlu dijabarkan.
………..
“Sat, cuaca disini kembali cerah sungguh berbeda dari sebulan bulan yang lalu, ibarat hatimu kini  komunikasi tak lagi menjaga kita, komitmen hanyalah omong kosong. Semoga turunnya air mata tak seiring turunnya hujan, Aku takut banjir satria".

--Cerita 5 tahun silam pada masa perkuliahan ditahun pertama--